GUGUSAN GUNUNG TUA YANG SIMPAN BANYAK KEAJAIBAN DI JAWA TIMUR
Bila berbicara tentang pegunungan ikonik di Jawa Timur, nama Arjuno-Welirang atau Semeru mungkin lebih dulu terlintas di pikiran. Namun, tak jauh dari sana ada sebuah kompleks pegunungan tua yang tak kalah menarik – Pegunungan Anjasmoro. Berbeda dengan konsep "satu gunung" yang sering kita bayangkan, Anjasmoro adalah sebuah gugusan pegunungan yang membentang luas meliputi lima wilayah: Mojokerto, Jombang, Kediri, Malang, dan Kota Batu. Meskipun kurang populer dibanding tetangganya, pegunungan ini menyimpan banyak fakta mengejutkan yang membuatnya benar-benar unik.
1. Bukan Satu Puncak, Melainkan Puluhan Puncak yang Menjulang
Banyak orang mengira Anjasmoro hanya memiliki satu puncak. Padahal, gugusan ini terdiri dari sekitar 40-an puncak dengan ketinggian yang bervariasi. Puncak tertingginya adalah Puncak Biru dengan ketinggian sekitar 2337 mdpl. Karena jumlah puncaknya banyak dan tersebar luas, pengalaman mendaki di sini seringkali memberikan kejutan menyenangkan pendaki yang mengira sudah mencapai titik tertinggi, justru menemukan puncak lain yang lebih tinggi di kejauhan. Ini membuat setiap pendakian di Anjasmoro selalu penuh dengan kejutan dan eksplorasi baru.
2. Sumber Air bagi Banyak Air Terjun Ikonik di Jawa Timur
Sebagai kawasan dengan tutupan hutan yang masih sangat rapat, Anjasmoro berperan sebagai daerah resapan air raksasa yang menyuburkan banyak sungai dan air terjun di sekitarnya. Beberapa air terjun ikonik di Jawa Timur bahkan bersumber dari lereng pegunungan ini:
- Air Terjun Coban urang dan selo lapis yang terletak di mojokerto dan pujon
- Di sisi Jombang, ada Air Terjun grojogan asmoro
Semua keindahan air terjun ini tak lepas dari peran penting Anjasmoro sebagai "ibu" dari sumber daya air yang melimpah.
3. "Hutan Perawan" yang Jadi Benteng Keanekaragaman Hayati
Berbeda dengan jalur pendakian Semeru atau Arjuno yang sudah terbuka dan sering ramai dikunjungi, sebagian besar wilayah Anjasmoro masih merupakan hutan hujan tropis yang lebat dan hampir tak tersentuh. Kawasan ini masih sering ditemukan jejak macan tutul Jawa (Panthera pardus melas), salah satu satwa langka yang terancam punah.
Vegetasinya yang sangat rapat membuat Anjasmoro dianggap oleh para rimbawan sebagai salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati di Jawa yang belum mengalami kerusakan parah akibat pendakian massal. Keasrian alam di sini menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang mencari kedalaman alam yang asli.
4. Menyimpan Jejak Sejarah Kerajaan Majapahit yang Sakral
Tak hanya kaya akan keindahan alam, Pegunungan Anjasmoro juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang dalam. Di lereng-lerengnya, terutama di wilayah Wonosalam (Jombang) dan Trawas (Mojokerto), banyak ditemukan situs pemujaan dan peninggalan masa kejayaan Kerajaan Majapahit.
Konon, kawasan ini dulunya dijadikan tempat bertapa bagi para ksatria dan bangsawan Majapahit. Lokasinya yang tersembunyi namun tidak terlalu jauh dari ibu kota kerajaan di Trowulan membuatnya menjadi tempat yang cocok untuk meditasi dan pengembangan diri bagi kaum elit kerajaan kala itu.
5. "Pabrik" Durian dan Kopi Langka yang Berkualitas
Tak bisa dipungkiri, Anjasmoro juga memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Lereng pegunungan ini menjadi sumber utama produksi durian dan kopi berkualitas tinggi di Jawa Timur:
- Wonosalam (Jombang) yang terkenal dengan durian Bido-nya, salah satu jenis durian terbaik di Jawa Timur, terletak tepat di lereng Anjasmoro.
- Tanah vulkanik tua di kawasan ini sangat cocok untuk menanam kopi jenis Excelsa – jenis kopi langka yang memiliki rasa unik dengan nuansa nangka dan cokelat, yang jarang ditemukan di pegunungan lain di Indonesia
MENGAPA PUNCAK PEGUNUNGAN ANJASMORO BERBENTUK RUNCING DAN TERJAL?
Pegunungan Anjasmoro di Jawa Timur menyimpan keunikan bentuk alam yang memukau. Jika diperhatikan, puncak-puncaknya seperti Gunung Argowayang, Gunung Biru, Gunung Boklorobubuh, dan puluhan puncak lainnya memiliki ciri khas: bentuknya cenderung runcing, curam, dan terjal. Bentuk ini bukan terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari perjalanan geologi yang panjang.
Secara geologis, kawasan ini merupakan kompleks gunung api tua yang sudah tidak aktif atau mati. Berbeda dengan gunung berapi aktif yang masih terus bertambah lapisan materialnya, gunung api purba ini telah mengalami proses erosi tingkat lanjut selama jutaan tahun. Berikut adalah faktor utama yang membentuk karakteristik puncaknya:
1. Erosi Intensif Selama Jutaan Tahun
Berbeda dengan gunung berapi aktif di sekitarnya seperti Gunung Arjuno atau Welirang yang terus mendapatkan suplai material baru berupa lava dan abu untuk mempertahankan bentuk kerucutnya yang sempurna, Pegunungan Anjasmoro adalah sisa aktivitas vulkanik yang berlangsung sejak periode Plistosen. Karena sudah tidak ada lagi aktivitas magmatik, tubuh gunung tidak mendapatkan tambahan lapisan baru.
Akibatnya, permukaannya terus-menerus terkikis oleh kekuatan alam: air hujan, aliran sungai, serta pengaruh cuaca tropis yang panas dan lembap. Proses pengikisan ini perlahan memotong bagian lereng yang tadinya landai, hingga akhirnya hanya menyisakan bagian batuan yang paling keras dan sulit terkikis di bagian tengah. Inilah yang kemudian membentuk dinding-dinding tebing curam dan puncak yang tampak runcing.
2. Keberadaan Sisa Sumbat Lava
Ketika gunung api purba ini terakhir kali meletus dan akhirnya mati, sisa magma yang masih tersimpan di saluran utama kawah perlahan membeku. Magma tersebut berubah menjadi batuan beku yang sangat keras dan padat, seperti andesit maupun basal.
Selama ribuan bahkan jutaan tahun berlalu, lapisan tanah, abu vulkanik, dan batuan yang lebih lunak di sekitarnya habis terkikis dan terbawa air. Sementara itu, batuan sumbat lava yang keras ini sangat tahan terhadap pengikisan alam. Akhirnya, batuan ini tertinggal berdiri tegak layaknya pilar atau menara batu yang menjulang tinggi, membentuk puncak-puncak runcing yang menjadi ciri khas kawasan ini.
3. Pengaruh Struktur Patahan dan Lembah Sempit
Wilayah Pegunungan Anjasmoro tersusun dari batuan Formasi Anjasmoro yang didominasi breksi gunung api, lava, dan tufa. Pembentukan wilayah ini juga dipengaruhi oleh pergerakan tanah dan sesar atau patahan yang terjadi pada masa lampau.
Patahan ini menciptakan lembah-lembah yang sangat sempit dan dalam. Aliran air sungai yang mengalir di lembah-lembah ini pun mengikis permukaan tanah secara vertikal ke bawah, bukan melebar ke samping. Hasilnya terbentuklah lembah berbentuk huruf V dengan dinding yang sangat tegak. Proses ini semakin mempertegas bentuk lereng yang curam dan tajam di seluruh kawasan pegunungan.
Karena bentuk topografinya yang ekstrem—serba curam, terjal, dan memiliki tebing-tebing tinggi—jalur pendakian menuju kawasan inti Pegunungan Anjasmoro saat ini ditutup secara resmi. Hal ini semata-mata demi menjaga keselamatan, mengingat risiko tergelincir atau longsor yang sangat tinggi di wilayah yang telah mengalami pengikisan alam sedemikian rupa
MENGAPA LERENG PEGUNUNGAN ANJASMORO JUA TERJAL
Bentuk puncak Pegunungan Anjasmoro yang runcing dan terjal ternyata tidak hanya menjadi ciri khas di bagian atas saja. Proses pengikisan yang membentuk puncak gunung api purba ini ternyata memberikan dampak langsung pada kondisi lereng di bagian bawahnya. Wilayah seperti jalur Batu Moker yang berada di perbatasan Mojokerto–Jombang, maupun kawasan Wonosalam, menjadi contoh nyata bagaimana perubahan geologi di bagian atas mengubah seluruh wajah medan di bawahnya.
Ketika bagian puncak dan tubuh tengah gunung mengalami pengikisan dalam waktu jutaan tahun, struktur lereng di sekelilingnya pun ikut berubah menjadi sangat curam dan ekstrem. Berikut adalah penjelasan mengapa hal ini bisa terjadi:
1. Gravitasi dan Erosi Vertikal: Seperti Pisau yang Menggores Bumi
Semakin runcing puncak sebuah gunung, semakin sempit pula jalur yang dilalui air hujan saat turun ke bawah. Volume tanah dan batuan di bagian atas memang berkurang, namun air yang mengalir turun justru memiliki kecepatan yang jauh lebih tinggi dan terkonsentrasi.
Aliran air ini bergerak deras melalui celah-celah sempit menuju kaki gunung, termasuk ke arah Wonosalam dan jalur perbatasan. Alih-alih melebar ke samping, air ini bertindak layaknya pisau tajam yang terus mengikis dasar lembah secara vertikal, menembus semakin dalam ke bawah. Akibatnya, dinding lembah di kanan dan kiri jalur—termasuk jurang-jurang di sekitar Batu Moker—kehilangan penopang dasarnya. Tanpa penahan yang kuat, dinding-dinding ini pun berubah menjadi sangat tegak lurus dan terjal.
2. Jejak Sesar Purba yang Membelah Lereng
Medan ekstrem di lereng utara dan barat Pegunungan Anjasmoro terbentuk di atas zona patahan atau sesar yang terbentuk jutaan tahun silam. Jalur seperti Batu Moker maupun jalan setapak di ketinggian Wonosalam sebenarnya memotong langsung bekas retakan raksasa di kerak bumi.
Batuan di sepanjang jalur ini sejak lama sudah mengalami keretakan akibat pergerakan tektonik masa lampau. Struktur batuan yang sudah tidak utuh ini membuat tebing di sisi jalur sangat tidak stabil, seolah-olah siap ambruk kapan saja. Di sinilah terbentuk jurang-jurang dalam yang menjadi ciri khas wilayah tersebut.
3. Perbedaan Karakteristik Lapisan Batuan
Penyusun lereng Anjasmoro terdiri dari campuran material yang beragam: ada batuan beku yang sangat keras sisa bekuan lava, namun di sela-selanya juga terdapat lapisan tufa dan abu vulkanik yang sifatnya jauh lebih lunak dan mudah hanyut.
Di wilayah Wonosalam dan sekitarnya, lapisan tanah serta abu vulkanik yang empuk ini sangat mudah tersapu air hujan. Seiring waktu, lapisan ini habis terbawa arus, menyisakan hanya batuan keras yang menjorok dan menggantung. Hilangnya lapisan penahan tanah ini mengubah kemiringan lereng secara drastis menjadi sangat curam. Kondisi inilah yang membuat kawasan Wonosalam memiliki risiko longsor yang cukup tinggi.
Kombinasi aliran air yang deras dari puncak, pengikisan vertikal yang terus berlanjut, serta struktur batuan yang sudah retak dan lapisan tanah yang mudah hilang, akhirnya membentuk medan yang dikelilingi jurang-jurang tegak. Inilah alasan utama mengapa lereng Pegunungan Anjasmoro dikenal memiliki topografi yang menantang dan memerlukan kewaspadaan ekstra bagi siapa saja yang melintasinya
MENGAPA KAKI GUNUNG WELIRANG BEGITU TERJAL DI BAGIAN CANGAR
Memang benar, bagian atas Gunung Welirang memiliki karakteristik yang khas: berupa dataran tinggi yang cukup landai, dihiasi barisan kubah lava yang menjajar rapi. Namun, jika menuruni sisi barat dan timurnya menuju jalur Cangar di Kota Batu hingga Pacet di Mojokerto, pemandangannya berubah total. Di sana, medan berubah menjadi sangat curam, terjal, dan diapit oleh jurang-jurang dalam yang menguji nyali.
Kondisi ekstrem ini muncul tepat di tempat di mana kaki Gunung Welirang berdempetan rapat dengan Pegunungan Anjasmoro. Bentuknya yang tidak wajar ini bukan terjadi secara kebetulan, melainkan hasil pertemuan berbagai fenomena geologi yang berlangsung selama jutaan tahun. Berikut penjelasannya:
1. Sesar Cangar: Retakan Besar yang Membelah Bumi
Alasan utama di balik terjalnya jalur Cangar–Pacet bukanlah karena aliran lava gunung, melainkan keberadaan jalur ini yang memotong langsung zona patahan tektonik aktif. Di wilayah ini terdapat Sesar Cangar, Sesar Claket, dan Sesar Puncung yang menjadi garis batas alami antara dua blok batuan besar.
Dulu, tekanan dari dalam bumi memaksa batuan purba di perbatasan Anjasmoro dan Welirang mengalami retakan besar. Salah satu sisi dari retakan ini perlahan ambles turun membentuk lembah yang sangat dalam, sedangkan sisi lainnya terangkat tegak lurus menjadi dinding batu yang menjulang tinggi. Inilah yang disebut gawir sesar, dan struktur inilah yang menjadi tulang punggung bentuk medan yang terjal di wilayah tersebut.
2. Terjepit di Antara Dua Struktur Besar
Secara geologis, kaki barat Gunung Welirang dan kaki timur Pegunungan Anjasmoro seolah menjepit sebuah lembah depresi atau zona amblesan bumi yang disebut graben purba. Ketika Gunung Welirang yang masih relatif muda terus tumbuh dan meletus, material vulkaniknya mengalir turun dan menumpuk menutupi bagian lembah yang rendah ini.
Akibatnya, wilayah Cangar hingga Pacet kini berada di posisi yang unik: terperangkap di antara dinding tebing patahan Anjasmoro yang kokoh di satu sisi, dan tumpukan material vulkanik Welirang di sisi lainnya. Posisi ini menciptakan lereng yang turun secara drastis dan langsung, membentuk kemiringan yang sangat curam.
3. Aktivitas Panas Bumi yang Melunakkan Batuan
Keberadaan sesar aktif juga berperan sebagai jalur keluarnya air dan gas panas dari kedalaman bumi. Hal ini terbukti dengan banyaknya sumber mata air panas alami yang terkenal di sekitar sini, seperti Pemandian Air Panas Cangar dan Padusan Pacet.
Namun, di balik manfaatnya bagi manusia, air panas dan uap belerang ini secara perlahan mengubah sifat batuan di sekitarnya. Proses yang disebut alterasi hidrotermal ini "memasak" dan merendam batuan keras hingga berubah menjadi lapisan tanah lempung yang lunak dan rapuh. Akibatnya, tebing-tebing di sepanjang jalur Cangar menjadi sangat tidak stabil dan rentan longsor, karena kehilangan kekuatan strukturnya.
4. Aliran Sungai yang Terus Mengikis
Perbedaan ketinggian yang sangat tajam akibat patahan membuat air hujan yang turun di dataran tinggi Welirang mengalir deras menuju dataran rendah. Sungai-sungai seperti Kali Kromong di Pacet membawa aliran air yang sangat kuat dan terus-menerus mengikis bagian dasar lembah secara vertikal.
Pengikisan yang berlangsung terus-menerus ini membuat dasar lembah semakin dalam, sementara dinding-dinding di sisinya semakin tegak dan curam. Inilah sebabnya mengapa jurang di kanan dan kiri jalur Cangar–Pacet terlihat semakin dalam dan berbahaya, terutama saat musim hujan tiba.
Singkatnya, meski puncak Gunung Welirang terlihat tenang dan landai, bagian kakinya justru menjadi medan yang ekstrem. Wilayah ini terbentuk karena terjepit di zona patahan aktif, di mana batuan telah dilunakkan oleh panas bumi dan terus terkikis oleh aliran air—menciptakan lanskap yang unik namun penuh tantangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar