Pages

Minggu, 22 Februari 2026

GUNUNG ANJASMORO

gugusan pegunungan anjasmoro dan gunung Lawu di lihat dari gunung Arjuna/The Anjasmoro mountain range and Mount Lawu as seen from Mount Arjuna

GUGUSAN GUNUNG TUA YANG SIMPAN BANYAK KEAJAIBAN DI JAWA TIMUR


Bila berbicara tentang pegunungan ikonik di Jawa Timur, nama Arjuno-Welirang atau Semeru mungkin lebih dulu terlintas di pikiran. Namun, tak jauh dari sana ada sebuah kompleks pegunungan tua yang tak kalah menarik – Pegunungan Anjasmoro. Berbeda dengan konsep "satu gunung" yang sering kita bayangkan, Anjasmoro adalah sebuah gugusan pegunungan yang membentang luas meliputi lima wilayah: Mojokerto, Jombang, Kediri, Malang, dan Kota Batu. Meskipun kurang populer dibanding tetangganya, pegunungan ini menyimpan banyak fakta mengejutkan yang membuatnya benar-benar unik.
 
1. Bukan Satu Puncak, Melainkan Puluhan Puncak yang Menjulang
 
Banyak orang mengira Anjasmoro hanya memiliki satu puncak. Padahal, gugusan ini terdiri dari sekitar 40-an puncak dengan ketinggian yang bervariasi. Puncak tertingginya adalah Puncak Biru dengan ketinggian sekitar 2337 mdpl. Karena jumlah puncaknya banyak dan tersebar luas, pengalaman mendaki di sini seringkali memberikan kejutan menyenangkan pendaki yang mengira sudah mencapai titik tertinggi, justru menemukan puncak lain yang lebih tinggi di kejauhan. Ini membuat setiap pendakian di Anjasmoro selalu penuh dengan kejutan dan eksplorasi baru.
 
2. Sumber Air bagi Banyak Air Terjun Ikonik di Jawa Timur
 
Sebagai kawasan dengan tutupan hutan yang masih sangat rapat, Anjasmoro berperan sebagai daerah resapan air raksasa yang menyuburkan banyak sungai dan air terjun di sekitarnya. Beberapa air terjun ikonik di Jawa Timur bahkan bersumber dari lereng pegunungan ini:
 
- Air Terjun Coban urang dan selo lapis yang terletak di mojokerto dan pujon
- Di sisi Jombang, ada Air Terjun grojogan asmoro
 
Semua keindahan air terjun ini tak lepas dari peran penting Anjasmoro sebagai "ibu" dari sumber daya air yang melimpah.
 
3. "Hutan Perawan" yang Jadi Benteng Keanekaragaman Hayati
 
Berbeda dengan jalur pendakian Semeru atau Arjuno yang sudah terbuka dan sering ramai dikunjungi, sebagian besar wilayah Anjasmoro masih merupakan hutan hujan tropis yang lebat dan hampir tak tersentuh. Kawasan ini masih sering ditemukan jejak macan tutul Jawa (Panthera pardus melas), salah satu satwa langka yang terancam punah.
 
Vegetasinya yang sangat rapat membuat Anjasmoro dianggap oleh para rimbawan sebagai salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati di Jawa yang belum mengalami kerusakan parah akibat pendakian massal. Keasrian alam di sini menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang mencari kedalaman alam yang asli.
 
4. Menyimpan Jejak Sejarah Kerajaan Majapahit yang Sakral
 
Tak hanya kaya akan keindahan alam, Pegunungan Anjasmoro juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang dalam. Di lereng-lerengnya, terutama di wilayah Wonosalam (Jombang) dan Trawas (Mojokerto), banyak ditemukan situs pemujaan dan peninggalan masa kejayaan Kerajaan Majapahit.
 
Konon, kawasan ini dulunya dijadikan tempat bertapa bagi para ksatria dan bangsawan Majapahit. Lokasinya yang tersembunyi namun tidak terlalu jauh dari ibu kota kerajaan di Trowulan membuatnya menjadi tempat yang cocok untuk meditasi dan pengembangan diri bagi kaum elit kerajaan kala itu.
 
5. "Pabrik" Durian dan Kopi Langka yang Berkualitas
 
Tak bisa dipungkiri, Anjasmoro juga memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Lereng pegunungan ini menjadi sumber utama produksi durian dan kopi berkualitas tinggi di Jawa Timur:
 
- Wonosalam (Jombang) yang terkenal dengan durian Bido-nya, salah satu jenis durian terbaik di Jawa Timur, terletak tepat di lereng Anjasmoro.
- Tanah vulkanik tua di kawasan ini sangat cocok untuk menanam kopi jenis Excelsa – jenis kopi langka yang memiliki rasa unik dengan nuansa nangka dan cokelat, yang jarang ditemukan di pegunungan lain di Indonesia

ENGLISH

AN ANCIENT MOUNTAIN RANGE HIDING COUNTLESS WONDERS IN EAST JAVA
 
When talking about iconic mountain ranges in East Java, names like Arjuno-Welirang or Semeru likely come to mind first. However, not far from there lies an equally fascinating ancient mountain complex – the Anjasmoro Mountains. Unlike the common idea of a "single mountain," Anjasmoro is a sprawling mountain range that covers five regions: Mojokerto, Jombang, Kediri, Malang, and Batu City. Though less popular than its neighbors, this mountain range holds many surprising facts that make it truly unique.
 
1. Not Just One Peak – Dozens of Peaks Reaching Skyward
 
Many people think Anjasmoro has only one peak. In reality, the range consists of around 40 peaks with varying heights. Its highest point is Puncak Biru (Blue Peak) at approximately 2337 above sea level (masl). With so many peaks spread across a wide area, hiking here often brings pleasant surprises – climbers who think they’ve reached the highest point may discover another taller peak in the distance. This makes every trek in Anjasmoro filled with new surprises and exploration.
 
2. Source of Water for Iconic Waterfalls in East Java
 
As an area with dense forest cover, Anjasmoro acts as a massive water catchment zone that feeds numerous rivers and waterfalls in the surrounding area. Several iconic waterfalls in East Java actually originate from the slopes of this mountain range:
 
- Coban urang and selo lapis Waterfalls in pujon distric and mojokerto regency

- On the Jombang side, there is grojogan asmoro Waterfall
 
The beauty of all these waterfalls is inseparable from Anjasmoro’s vital role as the "mother" of abundant water resources.
 
3. A "Virgin Forest" – Stronghold of Biodiversity
 
Unlike the well-established and often crowded hiking trails of Semeru or Arjuno, most of Anjasmoro’s territory remains a dense, almost untouched tropical rainforest. The area still frequently shows signs of the Javan leopard (Panthera pardus melas), one of Indonesia’s rare and endangered species.
 
Its thick vegetation has led botanists to regard Anjasmoro as one of Java’s last strongholds of biodiversity, which has not yet suffered severe damage from mass tourism and hiking activities. The pristine nature here is a unique draw for those seeking genuine depth in the wilderness.
 
4. Preserving Sacred Historical Traces of the Majapahit Kingdom
 
Beyond its natural richness, the Anjasmoro Mountains also hold deep historical and cultural value. On its slopes, particularly in the Wonosalam (Jombang) and Trawas (Mojokerto) areas, many places of worship and relics from the golden age of the Majapahit Kingdom have been discovered.
 
Legend has it that this area was once used as a hermitage for Majapahit knights and nobles. Its hidden location – yet not too far from the kingdom’s capital in Trowulan – made it an ideal place for meditation and self-development among the royal elite of that era.
 
5. A "Factory" for Quality Durian and Rare Coffee
 
Undoubtedly, Anjasmoro also contributes significantly to the local economy. Its slopes are a major source of high-quality durian and coffee production in East Java:
 
- Wonosalam (Jombang), famous for its Bido durian – one of the best durian varieties in East Java – is located right on the slopes of Anjasmoro.
- The ancient volcanic soil in the area is perfectly suited for growing Excelsa coffee – a rare coffee type with a unique flavor profile of jackfruit and chocolate notes, seldom found in other Indonesian mountain ranges

Tidak ada komentar:

Posting Komentar