Gunung Boklorobubuh adalah sebuah gunung yang terletak di Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Secara administratif, gunung ini berada di wilayah Kecamatan Jatirejo dan Kecamatan Gondang, menawarkan pesona alam yang menawan.
Sebagai bagian dari Pegunungan Iyang-Anjasmoro, Gunung Boklorobubuh menjulang setinggi 2.230 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Keberadaannya semakin memperkaya lanskap pegunungan di Jawa Timur. Di sekitar Gunung Boklorobubuh, terdapat puncak-puncak lain yang tak kalah menarik, seperti Puncak Semar dan Puncak Kukusan.
Selain keindahan puncaknya, Gunung Boklorobubuh juga menjadi sumber air bagi beberapa sungai penting di sekitarnya. Sungai-sungai yang berhulu dari gunung ini antara lain Sungai Geruh, Sungai Klera, Sungai Jembul, dan Sungai Jatirejo. Keberadaan sungai-sungai ini tentu sangat penting bagi kehidupan masyarakat dan ekosistem di sekitarnya. gunung Boklorobubuh, yang terletak di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, merupakan salah satu gunung dari Pegunungan Anjasmoro
- Kisah Joko Mujung: Joko Mujung adalah seorang pemuda yang seharusnya menikah dengan putri dari Ratu Pantai Selatan. Ibunya, Roro Bubuh, adalah seorang selir Raja Majapahit yang tinggal dalam pengasingan di lereng Anjasmoro.
- Pernikahan yang Gagal: Pesta pernikahan diadakan pada malam hari (karena pengantin putri berasal dari bangsa jin), namun berlangsung terlalu lama hingga fajar tiba. Para tamu jin panik dan melarikan diri karena takut sinar matahari.
- Asal-Usul Bentuk Geologi: Benda-benda yang ditinggalkan para tamu jin yang kabur konon berubah menjadi formasi geologi di sekitar Gunung Anjasmoro:
- Kue lapis menjadi lekuk-lekuk batu di Air Terjun Selo Lapis.
- Nasi uduk yang dikukus menjadi Puncak Kukusan.
- Tempat penyimpanan beras (Selo Lumbung) menjadi reruntuhan batu.
- Pagelaran wayang menjadi Bukit Selo Ringgit.
- Ayam yang berkokok menjadi Watu Jengger.
- Interpretasi Nama Tempat:
- Oro-Oro Ombo dipercaya sebagai tempat pendaratan iring-iringan pengantin.
- Alas Nagasari dinamai demikian karena kue nogosari berserakan di sana.
- Hilangnya Nama Joko Mujung: Nama Bukit Joko Mujung kini tenggelam dan lebih dikenal sebagai Bukit Watu Jengger, meskipun banyak pendaki tidak mengetahui lokasi Watu Jengger yang asli dan berbahaya
ENGLISH
Mount Boklorobubuh is a mountain situated in the Mojokerto Regency of East Java Province, Indonesia. Administratively, it lies within the Jatirejo and Gondang subdistricts, offering a captivating natural allure. As part of the Iyang-Anjasmoro Mountain Range, Mount Boklorobubuh rises to an elevation of 2,230 meters above sea level (MASL), enriching the mountainous landscape of East Java. Surrounding Mount Boklorobubuh are other noteworthy peaks, such as Mount Semar and Mount Kukusan.
Beyond its scenic summit, Mount Boklorobubuh serves as a vital water source for several nearby rivers. These rivers, originating from the mountain, include the Geruh, Klera, Jembul, and Jatirejo Rivers, playing a crucial role in supporting both local communities and the surrounding ecosystem.
Its challenging elevation and awe-inspiring natural scenery, Mount Boklorobubuh promises an unforgettable hiking experience for nature enthusiasts. Additionally, the region's rich flora and fauna serve as a draw for researchers and environmental observers.
Mount Boklorobubuh is a hidden treasure in Mojokerto, deserving of exploration and preservation.
mount Boklorobubuh, located in Mojokerto Regency, East Java, is one of the mount of the Anjasmoro Mountains.
Key Points (From the Joko Mujung Legend):
- The Tale of Joko Mujung: Joko Mujung was a young man betrothed to a princess of the Queen of the South Sea. His mother, Roro Bubuh, a concubine of the Majapahit King, lived in seclusion on the slopes of Mount Anjasmoro.
- The Doomed Wedding: The wedding feast took place at night (due to the princess's jinn heritage), but stretched until dawn. The jinn guests panicked and fled, fearing sunlight.
- Geological Origins: Objects left behind by the fleeing jinn transformed into geological formations around Mount Anjasmoro:
- Layer cakes became layered rocks at Selo Lapis Waterfall.
- Steamed rice turned into Mount Kukusan.
- A rice storage (Selo Lumbung) became stone ruins.
- A puppet show became Selo Ringgit Hill.
- A crowing rooster became Watu Jengger.
- Place Name Interpretations:
- Oro-Oro Ombo is believed to be the landing site for the wedding procession.
- Alas Nagasari is named for the scattered nagasari cakes.
- The Disappearance of Joko Mujung's Name: Bukit Joko Mujung is now better known as Bukit Watu Jengger, though many hikers are unaware of the dangerous Watu Jengger's true location
FOTO²
Tampak nya ini di sebelah utara gunung. Kurang lebih (prakiraan) 1 jam atau 2 jam sebelum puncak/Looks like this is on the north side of the mountain. Approximately (Forecast) 1 hours or 2 hours before the summit
Indah sekali view nya.. tampak nya ini di sebelah selatan (agak ke barat) dari gunung. Di bawah argowayang/sebelah timur argowayang /The view is very beautiful. It looks like this is on the south (slightly west) side of the mountain, below Argowayang/east of Argowayang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar