WALI PENADARAN: ULAMA PUTRA TUMENGGUNG MAJAPAHIT YANG LARANG SOMBONG
Wali Penadaran adalah salah satu ulama terkenal di Mojokerto selain Syaikh Jumadil Kubro. Beliau merupakan keturunan Tumenggung Prawiro Seno, pejabat kerajaan di wilayah Bangsal, Mojokerto pada masa Kerajaan Majapahit.
Tumenggung Prawiro Seno memeluk agama Hindu, sedangkan Wali Penadaran adalah penganut Islam yang melakukan dakwah di sekitar wilayah tersebut. Beliau memiliki saudara bernama Tumenggung Prawiro Sakti, yang juga menjabat sebagai tumenggung pada zaman Majapahit. Keduanya, bersama ayahnya, diketahui memiliki perawakan tinggi, wajah khas Jawa, dan sering menggunakan udeng sebagai ciri khas pejabat kerajaan.
Makam Wali Penadaran terletak di dalam kompleks makam keluarga Tumenggung Prawiro Seno dan menjadi yang paling mencolok karena berada di bawah cungkup atau bangunan berbahan kayu. Di atas makam terdapat tembikar untuk menancapkan dupa serta kendi untuk menyimpan air. Di sebelah selatan makamnya berdiri makam Tumenggung Prawiro Sakti yang dikelilingi pagar.
Yang paling menarik adalah tulisan dalam bahasa Jawa di depan makam Wali Penadaran yang terbuat dari semen: "Mring Sepodo Ojo Dumeh", yang berarti "kepada sesama manusia jangan sombong". Ajaran mulia ini menjadi inti dari pengajaran beliau. Oleh karena itu, para peziarah yang datang ke kompleks makam tersebut dilarang bersikap angkuh, sombong, atau tidak sopan. Konon, pengunjung yang tidak menunjukkan tata krama akan mendapatkan gangguan dari penunggu kompleks, bahkan pernah ada cerita bahwa beberapa orang yang tidak sopan terlempar ke sungai di sebelah utara atau kebun bambu di sekitar lokasi
ENGLISH
WALI PENADARAN: AN ISLAMIC SCHOLAR, SON OF A MAJAPAHIT TUMENGGUNG WHO FORBADE ARROGANCE
Wali Penadaran is one of the well-known Islamic scholars in Mojokerto, besides Sheikh Jumadil Kubro. He is a descendant of Tumenggung Prawiro Seno, a royal official in the Bangsal area, Mojokerto during the Majapahit Kingdom era.
Tumenggung Prawiro Seno practiced Hinduism, while Wali Penadaran was a follower of Islam who preached in the surrounding areas. He had a brother named Tumenggung Prawiro Sakti, who also served as a tumenggung during the Majapahit period. Both of them, along with their father, were known to be tall, had typical Javanese facial features, and often wore udeng (a traditional Javanese head covering) as a distinctive mark of royal officials.
Wali Penadaran's tomb is located within the Tumenggung Prawiro Seno family tomb complex and is the most prominent one because it is situated under a cungkup (a traditional Javanese open-sided pavilion) or wooden building. On top of the tomb, there are earthenware vessels for placing incense and jugs for holding water. To the south of his tomb stands Tumenggung Prawiro Sakti's tomb, which is surrounded by a fence.
The most interesting part is the Javanese inscription made of cement in front of Wali Penadaran's tomb: "Mring Sepodo Ojo Dumeh", which means "do not be arrogant towards fellow human beings". This noble teaching is the core of his teachings. Therefore, pilgrims visiting the tomb complex are prohibited from being haughty, arrogant, or impolite. It is said that visitors who do not show proper etiquette will be disturbed by the guardians of the complex, and there have even been stories of some impolite people being thrown into the river to the north or into the bamboo groves around the site
location
sumberwono kec bangsal kab mojokerto/Sumberwono village, Bangsal District, Mojokerto Regency
PHOTO






0 komentar:
Posting Komentar